Farnorthendurance.com

Para Pecinta Alam & Berpetualang

MENJAGA KEELOKAN AIR DI SANGHYANG HELEUT

Siapa yang diantara kamu adalah seorang pecinta alam? Jika iya, kamu harus dong menjaga lingkungan agar selalu tetap asri dan terawat bukan? Pada masa kini banyak tempat yang seharusnya eksotis dan bersih malah menjadi tempat yang “berbeda” dari awal. Diantaranya karena banyaknya sampah, banyaknya pendatang jadi banyak sesuatu yang seharusnya tidak terinjak menjadi terinjak, dan lain – lain. Seperti hal nya pada kawasan yang akan di bahas kali ini yakni Sanghyang Heleut.

Sanghyang Heuleut merupakan danau kecil dengan air berwarna biru kehijauan yang dikelilingi oleh bebatuan besar. Konon katanya, danau alami ini merupakan tempat mandinya para bidadari. Nama Sanghyang Heuleut sendiri jika diartikan memiliki makna tempat suci yang dikunjungi oleh bidadari yang memiliki waktu berbeda dengan manusia.

Lokasi Sanghyang Heleut memang tersembunyi, tetapi lokasi Sanghyang Heuleut secara menyeluruh terdapat di Rajamandala Kulon, Kecamatan Cipatat, Kabupaten Bandung Barat. Jika ingin datang kesana kita harus banyak mendaki agar bisa menemukan Sanghyang Heleut. Danau Sanghyang Heuleut memiliki kedalaman sekitar tiga meter. Jadi, sebelum kamu masuk ke dalam danau, pastikan kamu bisa berenang agar tidak tenggelam, atau setidaknya memakai pelampung.

Sanghyang Heuleut merupakan danau purba yang merupakan hasil letusan dari Gunung Api Purba yang bernama Gunung Sunda. Hal ini dapat dilihat dari bentuk danau yang dikelilingi oleh batu –  batu besar yang menjulang tinggi. Selain dikelilingi oleh bebatuan besar, terdapat satu aliran air terjun kecil yang merupakan aliran sungai Citarum purba. Aliran sungai Citarum purba inilah yang mengairi danau Sanghyang Heuleut ini. Disini kamu bisa berendam atau sekadar bermain air. Keasrian tempat wisata ini dihasilkan dari perpaduan antara pohon yang rindang, tebing yang kokoh dan air yang jernih.

Tetapi, fasilitas di Sanghyang Heuleut masih sangat minim. Belum ada toilet atau mushala yang di sediakan. Hanya ada warung kecil yang menjajakan makanan dan minuman.Untuk dapat menemukan surga tersembunyi ini, kamu perlu mengikuti rute perjalanan ke PLTA Saguling. Karena, tempat ini jaraknya tidak terlalu jauh dari PLTA Saguling yang berada di Kecamatan Rajamandala. Tepatnya sekitar 5 Km dari gapura PLTA Saguling.

Jika kamu belum tahu dimana PLTA Saguling, dari arah Bandung anda harus masuk terlebih dahulu ke Kecamatan Rajamandala. Sesampainya di Rajamandala anda akan menemukan pertigaan dan gapura bertuliskan PLTA Saguling. Masuklah lewat gapura tersebut, dan Sanghyang Heuleut sudah menanti anda untuk ditapaki. Sekedar mengingatkan, untuk anda yang ingin berkunjung ke Sanghyang Heuleut, sebaiknya mengenakan sandal gunung atau sepatu yang tidak licin. Karena akan ada banyak bebatuan yang anda injak sepanjang jalan menuju lokasi danau Sanghyang Heuleut. Disini, kamu akan menemukan pepohonan dan rerumputan hijau yang membuat mata kamu segar dan serasa di manjakan. Bebatuannya yang tinggi itu bahkan kerap digunakan sebagai tempat para pengunjung untuk meloncat indah menuju danau purba tersebut.

Di sekitar Sanghyang Heuleut terdapat Sanghyang Tikoro dan Sanghyang Poek. Dua tempat wisata tersebut juga memiliki cerita dan keindahan misterius yang layak untuk dikunjungi. Sejauh ini, Danau Sanghyang Heuluet masih belum dikelola secara resmi oleh pemerintah. Karenanya akses menuju tempat ini pun bisa dibilang masih sangat terbatas. Tangga, tempat parkir, dan jembatan yang ada di kawasan Danau Sanghyang Heuleut kabarnya disediakan oleh warga setempat.

Tetapi, lain daripada cerita yang di ceritakan diatas, sekarang air danau di Sanghyang  Heleut berubah menjadi keruh, bukan karena danya campuran air hujan, tetapi karena para pengunjung yang datang ada yang tidak menjaga ke elokan alami nya. Sehingga lokasi ini terlihat berbeda dari pada yang ada di foto. Alangkah baiknya, kemana pun kita, harus lah kita menjaga tempat tersebut. Terutama alam. Karena ada peribahsa berkata jika kamu menjaga alam, alam pun akan menjaga kamu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *